Taman Segoro Amarto diresmikan secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta, Drs. Hasto Wardoyo, pada 7 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-269 Kota Yogyakarta. Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti di lokasi taman, disaksikan oleh jajaran pejabat Pemerintah Kota Yogyakarta serta perwakilan Bank BPD DIY.
Taman Segoro Amarto hadir sebagai wujud komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menghadirkan ruang terbuka hijau yang indah, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat. Berlokasi di Bundaran Samsat, Kelurahan Bumijo, Kemantren Jetis, taman ini menjadi salah satu ikon baru yang mempercantik wajah kota sekaligus menambah ruang publik bagi warga.
Gagasan pembangunan Taman Segoro Amarto berawal dari kebutuhan untuk memperkuat peran RTH di tengah perkembangan kawasan perkotaan Yogyakarta yang semakin padat. Bundaran Samsat, yang merupakan salah satu titik lalu lintas utama di sisi utara pusat kota, dipilih sebagai lokasi strategis karena sebelumnya area tersebut hanya berupa median jalan dengan vegetasi terbatas.
Konsep Monumen mengadaptasi bentuk tugu bermotif Kawung, yang melambangkan tonggak kebudayaan dan pertumbuhan yang berakar pada nilai-nilai lokal. Motif Kawung sendiri merupakan simbol klasik Yogyakarta yang bermakna keseimbangan, keanggunan, serta keteraturan dalam kehidupan masyarakat.
Bagian atas monumen menampilkan logo Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang kota yang terus berkembang namun tetap berpegang pada akar budaya dan nilai tradisi.
Monumen dibangun menggunakan material ACP berwarna hitam dengan finishing terrazzo pada pedestal dan umpaknya. Warna hitam dipilih untuk memberikan kesan kuat, elegan, dan tegas, mencerminkan semangat kemajuan kota yang berpijak pada kearifan lokal.
Monumen berwarna hitam ini mengambil Konsep lembaran kain yang menyatu menggambarkan lapisan masyarakat Yogyakarta yang beragam namun berpadu dalam satu kesatuan. Elemen bentuk lembaran kain diartikan sebagai simbol pergerakan sosial masyarakat Saling mendekat dan berinteraksi, Bertumbuh bersama, Bergerak cepat dan responsif, serta Berkembang menuju kota yang lebih maju dan berdaya saing.
Seperti halnya kain yang tersusun dari berbagai helai benang, masyarakat Yogyakarta diibaratkan sebagai anyaman kehidupan yang saling terhubung, saling memperkuat, dan membentuk harmoni tanpa memandang batas. Monumen sebagai peringatan pelayanan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan membawa konsep, Menjadi lebih dekat, guyub, dan merangkul masyarakat dengan mendengar dan melayani lebih cepat dalam semangat keterbukaan, transparan, inklusif, dan tanpa batas — menuju Kota Yogyakarta yang tumbuh dan berkembang bersama.