cahyogemilang, 12 September 2018 Pembersih Sampah Kota Yogyakarta Tidak Pernah Kelihatan
berita

Juru Sampah, Pembersih Sampah, Tukang Sapu Jalanan atau Petugas Kebersihan sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun tidak banyak orang mengira bahwa menjadi seorang tukang sampah adalah pekerjaan yang mulia. Itulah profesi yang saat ini dijalani oleh Dalimo, salah seorang petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta. Pekerjaan yang sehari-hari dijalani mulai pukul 05:00 pagi sehingga tidak banyak orang yang melihat Dalimo bekerja. Ketika aktifitas kebanyakan orang dimulai pukul 6:30 untuk berangkat sekolah atau bekerja ke kantor, Dalimo hampir tidak terlihat membersihkan sampah dari jalanan karena sudah menyelesaikan sebagian tugasnya.

Dalimo memilih bekerja sebagai petugas kebersihan karena tidak ada pekerjaan lain yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikannya yang hanya tamat Sekolah Dasar. Meski begitu, Dalimo tetap bersyukur karena di kota besar seperti Yogyakarta masih banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan. Setiap sampah yang dikumpulkan lalu dibuang ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) atau Depo Sampah terdekat. Dalimo hanya salah seorang yang menyapu di sekitar Jl. Gambiran karena masih banyak lagi petugas penyapu dari DLH yang setiap pagi membersihkan jalan. Tidak hanya setiap pagi tetapi juga terkadang membersihkan sampah ketika ada sebuah acara/event yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta pada malam hari setelah selesai jam berapapun.


Menjalani profesi sebagai pembersih sampah tidak terbebas dari berbagai hambatan dan masalah. Terkadang ada beberapa oknum masyarakat yang susah diatur untuk membuang sampah pada tempatnya. Padahal itu semua adalah untuk kenyamanan bersama. Sedikit berbeda dengan Dalimo, Wiyoto adalah petugas pengangkutan sampah yang selalu membersihkan Depo dari sampah yang dibuang oleh penggerobak pemukiman sekitar. Setiap pagi hingga siang, Wiyoto bersama dengan teman-temannya sesama pengangkut sampah berada di sekitar Depo Argolubang yang terletak di samping SPBU Lempuyangan. Petugas pengangkut sampah itu memindahkan sampah yang berada di sekitar Depo ke dalam Dump Truck untuk dibawa ke TPA Piyungan.

Menjadi pembersih sampah dijalani Wiyoto mulai tahun 1989. Petugas pembersih sampah yang selalu mengenakan topi bulat berwarna merah ini hanya dikenal masyarakat sekitar Jl. Argolubang, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Berprofesi sebagai seorang pengangkut sampah itu tidaklah mudah. Artinya seseorang itu harus berani susah dan ikhlas untuk menjalankannya. Seperti harus mau memegang sampah, menahan bau sampah, badan pegal karena mengangkat beberapa keranjang sampah, dan harus siap menerima kenyataan karena saat hari libur nasional tetap menjalankan tugasnya.

Meskipun Wiyoto bukan PNS di DLH tetapi beliau tidak pernah iri terhadap temannya dan justru dapat dijadikan contoh karena mendapatkan penghargaan Kalpataru Tingkat Provinsi Tahun 2018. Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Ayah dari dua orang anak ini tetap merekahkan senyum sembari menjalani pekerjaanya setiap hari. Alasan Wiyoto bekerja di DLH juga dikarenakan beliau senang dengan kebersihan.

Pendidikan Wiyoto hanya tamat SD tetapi beliau sangat pandai mencari nafkah untuk keluarganya. Selain mengangkut sampah ke dalam truck, beliau juga memilah antara sampah yang masih bisa dimanfaatkan atau tidak. Sampah yang dipilah tersebut bisa dijual kepada perongsok atau Bank Sampah.
 
Setelah sampah itu diangkut ke dalam dump truck, selanjutnya adalah tugas Supardi yaitu salah seorang sopir pengangkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta. Supardi mengangkut sampah dari TPS Argolubang untuk dibuang ke TPA Piyungan. Terkadang tidak hanya satu kali sehari mengangkut sampah untuk setiap TPS.

Tidak kalah penting yaitu Bapak Ir. Suyana yang tidak hanya mengurusi Bidang Pengelolaan Persampahan tetapi 3 bidang lain di DLH. Beliau adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta. Pria kelahiran Klaten yang mengabdikan dirinya untuk bekerja di DLH sejak 1990 ini memegang tanggung jawab terbesar yaitu kebersihan sampah yang ada di Kota Yogyakarta. Pada tahun 1990, DLH masih bernama DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) kemudian berganti menjadi DKKP (Dinas Kebersihan, Keindahan dan Pemakaman) tahun 2001 dan akhirnya bernama DLH pada tahun 2006.

Kebanyakan orang tidak memperdulikan kenapa Kota Yogyakarta begitu bersih hingga mendapatkan penghargaan Adipura. Tetapi lain cerita apabila terjadi penumpukan sampah di TPS yang tidak segera dibuang ke TPA, maka Bapak Kepala Dinas inilah yang paling dicari. Contoh lain misalnya ada oknum masyarakat yang membuang sampah liar di depan sebuah toko, maka pemiliknya pasti akan langsung menghubungi Dinas Lingkungan Hidup. Walaupun belum tentu dikarenakan oleh DLH tetapi Dinas tersebut baru akan dikenal ketika terjadi kesalahan yang berkaitan dengan kebersihan Kota Yogyakarta.

Pengelolaan Persampahan DLH Yogyakarta Penanganan Sampah Feature Biografi
Lokasi Kantor
Search
Statistik Pengunjung
Hari Ini 159 Kemarin 612 Bulan Ini 9,775 Tahun Ini 136,589 Total Pengunjung 732,289
Agenda Rapat Hari Ini
Thursday / 23 September 2021
12:30 ~ 15:30
Zoom Meeting 8

Video Youtube
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kota Jogja


IKLH Tahun
IKLH
Kualitas Udara
Kualitas Air Sungai
Kualitas Tutupan Hutan
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Kota Yogyakarta
Tanggal

PM10

PM25

CO

NO2

SO2

O3


BAIK : 0-50
SEDANG : 51-100
TIDAK SEHAT : 101-200
SANGAT TIDAK SEHAT : 201-300
BERBAHAYA : ≥ 301

Link Terkait