YOGYAKARTA - Sampah organik seringkali dianggap sebagai masalah, padahal di baliknya tersimpan potensi besar untuk memperbaiki lingkungan kita. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, terungkap bahwa Biopori Jumbo (BIMBO) adalah solusi sederhana namun sangat efektif untuk pengelolaan sampah organik sekaligus perbaikan kualitas tanah di perkotaan.
Apa itu BIMBO?
BIMBO adalah inovasi lubang resapan dengan diameter sekitar 80 cm dan kedalaman hingga 200 cm. Berbeda dengan lubang biopori standar, BIMBO memiliki kapasitas lebih besar untuk menampung dan mengolah sampah organik secara masif langsung di sumbernya.

Berdasarkan laporan Kuliah Kerja Profesi (KKP) yang dilakukan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, berikut adalah kaitan antara penerapan Biopori Jumbo (BIMBO) dengan Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP):
Kesimpulan Laporan
Penerapan BIMBO di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Kota Yogyakarta terbukti secara signifikan berperan dalam memperbaiki kondisi tanah melalui peningkatan aktivitas biologi tanah, porositas, dan laju infiltrasi air. BIMBO bukan sekadar lubang, melainkan teknologi konservasi tanah dan air yang berkelanjutan.
Saran & Rekomendasi (Agar BIMBO Berhasil Maksimal)
Agar BIMBO dapat berfungsi optimal, berikut adalah hal penting yang perlu diperhatikan oleh kita semua:

BIMBO merupakan inovasi teknologi konservasi tanah dan air yang terintegrasi di kawasan RTHP, yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengelolaan sampah organik, tetapi juga berkontribusi secara langsung pada kebersihan, perbaikan kualitas lingkungan dan kesuburan tanah di lingkungan perkotaan.
Mari Beraksi! Membuat Biopori Jumbo adalah langkah kecil dengan dampak yang besar. Dengan mengelola sampah organik sendiri, kita ikut merawat tanah dan air demi masa depan lingkungan yang lebih sehat. (kkg)
Sumber: Laporan Kuliah Kerja Profesi, "Pengaruh Penerapan Biopori Jumbo (BIMBO) terhadap Perbaikan Kondisi Tanah dan Pengelolaan Sampah Organik di Beberapa RTHP Kota Yogyakarta" (Ananda Nada Khotimah, 2026).